16 September 2008

Artikel 6 : Tindak Kekerasan Terhadap Anak

Tindak Kekerasan Terhadap Anak
Oleh : Pdt. Tadeus D. Wardhana, S.Th.


A. Pendahuluan

Peristiwa kekerasan yang terjadi meningkat tajam. Hampir setiap hari media massa menayangkan berbagai bentuk kekerasan seperti demo anarkis, perkelahian antarmahasiswa, kekerasan remaja, penganiayaan orang tua terhadap anaknya atau sebaliknya anak membunuh orang tua, dll.
Salah satu indikasi meningkatnya kekerasan di masyarakat adalah laporan bahwa dari tahun ke tahun tingkat kriminalitas terus bertambah. Akhir-akhir ini dengan alasan sendiri-sendiri telah muncul anggapan bahwa kekerasan adalah alat terampuh guna memperoleh apa yang diinginkan.
Kita merasa prihatin melihat kenyataan di atas. Bagaimana mungkin masyarakat kita yang sejak zaman dahulu dikenal ramah, sopan santun, dan penyabar telah berubah menjadi mudah tersinggung dan marah serta agresif. Di sini pasti ada sesuatu yang salah dan perlu segera diluruskan
. “

Kutipan di atas merupakan satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang mantan guru yang telah lama pensiun, berinisial Tn. B, kepada psikiater dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J dalam rubrik Konsultasi Kesehatan Jiwa di surat kabar Pikiran Rakyat (Sabtu, April 2008). Suatu pertanyaan yang mungkin pernah atau sedang terlintas dalam benak kita menyikapi berbagai keadaan kehidupan di sekitar kita khususnya berkenaan dengan tindak kekerasan.
Alkitab sudah menyatakan kondisi ini akan terjadi dan menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada zaman akhir dalam 2Tim 3:1-5 (BIS) :
1Ingatlah ini: Pada hari-hari terakhir akan ada banyak kesusahan.
2Manusia akan mementingkan dirinya sendiri, bersifat mata duitan, sombong dan suka membual. Mereka suka menghina orang, memberontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, dan membenci hal-hal rohani.
3Mereka tidak mengasihi sesama, tidak suka memberi ampun, mereka suka memburuk-burukkan nama orang lain, suka memakai kekerasan, mereka kejam, dan tidak menyukai kebaikan.
4Mereka suka mengkhianat, angkuh dan tidak berpikir panjang. Mereka lebih suka pada kesenangan dunia daripada menuruti Allah.
5Meskipun secara lahir, mereka taat menjalankan kewajiban agama, namun menolak inti dari agama itu sendiri. Jauhilah orang-orang yang seperti itu.
Kita hidup dalam zaman seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut di atas. Jelas bahwa terjadinya tindakan kekerasan menunjukkan “ ada sesuatu yang salah dan perlu segera diluruskan.”

Ironis memang, keluarga Kristen yang dirancang Tuhan menjadi tempat yang tepat bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh dan berkembang dengan penuh cinta kasih, justru menjadi tempat berlangsungnya tindak kekerasan, termasuk kekerasan terhadap anak-anak. Semboyan kasih dalam Mat 22:37-39 (TB-LAI) :
37Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
sudah terlupakan dan kehilangan maknanya. Akibatnya Meskipun secara lahir, mereka taat menjalankan kewajiban agama, namun menolak inti dari agama itu sendiri.” (2Tim 3:5, BIS).

Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa pada akhir jaman kebanyakan orang akan “ membenci hal-hal rohani ” dan “ lebih suka pada kesenangan dunia daripada menuruti Allah.” (2Tim 3:2,4, BIS). Hal inilah yang menjadi intisari dari munculnya berbagai faktor penyebab tindak kekerasan dan dampak buruknya dalam keluarga, khususnya terhadap anak-anak.
Dalam makalah ini pembahasan akan dipusatkan pada tindakan kekerasan terhadap anak yang menguraikan berbagai faktor penyebab, dampak dan penanggulangannya. Diharapkan apa yang disampaikan dalam makalah ini – meskipun secara garis besar - dapat memberikan masukan atau gagasan bagi setiap orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar sesuai dengan Firman Tuhan dan tidak terseret pada tindak kekerasan. Tidak ada kata terlambat untuk mengadakan perubahan dan pemulihan dalam keluarga anda. Mulailah dari sekarang !

B. Definisi :
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, penulis ingin menyampaikan dulu beberapa pengertian tentang tindak kekerasan terhadap anak agar diperoleh kesamaan pemahaman tentang pokok yang dimaksud. Di masyarakat, tindak kekerasan terhadap anak lebih dikenal dengan istilah penganiayaan anak.
• Menurut Kaplan, tindak kekerasan adalah tiap bentuk perilaku menyakiti atau melukai orang lain.
• Menurut Atkinson, tindak kekerasan adalah perilaku melukai orang lain, secara verbal (kata-kata yang sinis, memaki dan membentak) maupun fisik (melukai atau membunuh) atau merusak harta benda.
• Menurut UU RI No. 23 Th. 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, hal. 2 :
Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
• Menurut UU RI No. 23 Th. 2002 tentang Perlindungan Anak, hal. 56-57 :
a) Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
b) Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
c) Orang tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri. Atau ayah dan/atau ibu angkat.
d) Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai orang tua anak.

• Penganiayaan Anak merupakan tindak kekerasan pada anak - yang dilakukan oleh orang tuanya, pengasuh (wali), atau orang dewasa lainnya yang bertanggung jawab memeliharanya – dalam bentuk kekerasan secara fisik, pelecehan seksual, kekerasan secara emosional atau menelantarkan kebutuhan dasar anak.

C. Jenis Tindak Kekerasan
Richard J. Gelles, Ph.DKepala Sekolah Pekerja Sosial dari Universitas Pennsylvania - menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis tindak kekerasan pada anak, dan bahkan sejumlah anak mengalami lebih dari satu jenis tindak kekerasan.

1. Tindak kekerasan secara fisik
≈ mencakup tindakan secara sengaja yang melukai atau bahkan membunuh seorang anak. Luka-luka, patah tulang, atau memar-memar pada seorang anak dapat menjadi tanda tindak kekerasan secara fisik.

2. Tindak kekerasan secara seksual
≈ terjadi ketika orang dewasa memanfaatkan anak-anak untuk kepuasan seksual atau memaksanya melakukan tindakan seksual. Tindakan ini dapat diawali dengan ciuman atau belaian dan berlanjut dengan tindakan seksual, seperti oral seks dan penetrasi pada vagina atau anus (sodomi).

3. Tindak kekerasan secara emosional
≈ mencakup ucapan secara berulang pada diri anak dalam bentuk teriakan, ancaman, dan kritik-kritik yang menghina dan mempermalukan. Hal ini dapat menghancurkan harga diri anak. Bentuk lainnya adalah kurungan, seperti mengunci anak dalam kamar mandi yang gelap, dan isolasi sosial, seperti menolak kehadiran teman-temannya.

4. Menelantarkan pemeliharaan anak

a) Menelantarkan secara fisik
≈ mencakup kegagalan orang tua untuk memberikan makanan yang cukup, pakaian, tempat berteduh, atau perawatan medis pada seorang anak. Hal itu mencakup juga kurangnya pengawasan dan perlindungan pada anak dari hal-hal yang membahayakan.

b) Menelantarkan secara emosional
≈ terjadi ketika orang tua atau pengasuhnya tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak akan kasih sayang dan rasa nyaman. Contoh-contoh menelantarkan secara emosional mencakup perilaku yang dingin, membuat jarak dan tidak menunjukkan kasih sayang kepada anak, membiarkan anak menyaksikan tindak kekerasan ayah terhadap ibu atau sebaliknya secara terus-menerus, membiarkan seorang anak mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan, dan mendorong anak berbuat jahat.

D. Tujuan Tindak Kekerasan
Psikiater dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J menjelaskan bahwa secara umum tindak kekerasan mempunyai tujuan lain yang lebih penting dari sekedar melukai atau menelantarkan korban, misalnya :
1. Untuk mempertahankan harga diri.
2. Usaha memaksakan atau mempengaruhi orang lain agar mengikuti kehendaki pelaku.
3. Untuk mempertahankan atau meningkatkan wewenang dan kekuasaan pelaku
.

E. Faktor-Faktor Penyebab
Banyak orang sukar memahami mengapa seseorang melukai anaknya. Masyarakat sering beranggapan bahwa orang yang menganiaya anaknya mengalami kelainan jiwa. Tetapi banyak pelaku penganiayaan sebenarnya menyayangi anak-anaknya namun cenderung bersikap kurang sabar dan kurang dewasa secara pribadi. Karakter seperti ini membuatnya sulit memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan meningkatkan kemungkinan tindak kekerasan secara fisik atau emosional.

Namun, tidak ada penjelasan yang menyeluruh tentang penganiayaan pada anak. Hal itu terjadi sebagai akibat kombinasi faktor dari kepribadian, sosial dan budaya. Menurut Richard J. Gelles, Ph.D faktor-faktor penyebab penganiayaan ini dapat dikelompokkan dalam empat kategori utama :
1. Penyebaran perilaku jahat antar generasi.
2. Tekanan sosial.
3. Isolasi sosial.
4. Struktur keluarga.

1. Penyebaran perilaku jahat antar generasi
Banyak anak belajar perilaku jahat dari orang tua mereka dan kemudian berkembang menjadi tindak kekerasan. Jadi, perilaku kekerasan diteruskan antar generasi. Penelitian menunjukkan bahwa 30% anak-anak korban tindak kekerasan menjadi orang tua pelaku tindak kekerasan. Mereka meniru perilaku ini sebagai model ketika mereka menjadi orang tua kelak.
Namun, beberapa ahli percaya bahwa yang menjadi penentu akhir adalah apakah anak menyadari bahwa perilaku kasar yang dialaminya tersebut salah atau tidak. Anak-anak yang yakin bahwa mereka berbuat salah dan pantas mendapat hukuman akan menjadi orang tua pelaku kekerasan lebih sering daripada anak-anak yang yakin bahwa orang tua mereka salah kalau berlaku kasar pada mereka.

2. Ketegangan Sosial
Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko tindak kekerasan pada anak dalam sebuah keluarga. Kondisi ini mencakup :
• Pengangguran.
• Sakit-penyakit.
• Kemiskinan dalam rumah tangga.
• Ukuran keluarga yang besar.
• Kehadiran seorang bayi atau orang cacat mental dalam rumah.
• Kematian anggota keluarga.
• Penggunaan alkohol dan obat-obatan.

3. Isolasi sosial
Para orang tua atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan pada anak cenderung kurang bersosialisasi. Beberapa orang tua pelaku kekerasan bahkan bergabung dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, dan kebanyakan kurang berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabatnya. Kurangnya sosialisasi ini menyebabkan kurangnya dukungan masyarakat pada orang tua pelaku tindak kekerasan untuk menolong mereka menghadapi ketegangan sosial atau ketegangan dalam keluarga.

Faktor budaya sering menentukan banyaknya dukungan komunitas yang diterima sebuah keluarga. Komunitas itu berupa para tetangga, kerabat dan teman-teman yang membantu pemeliharaan anak ketika orang tuanya tidak mau atau tidak mampu. Di AS, para orang tua sering menaruh tanggung jawab pemeliharaan pada diri anak sendiri, yang berisiko tinggi mengakibatkan tegangan dan tindak kekerasan pada anak.

4. Struktur Keluarga
Tipe keluarga tertentu memiliki risiko anak terlantar dan terjadi tindak kekerasan pada anak. Sebagai contoh :

• Orang tua tunggal lebih sering melakukan tindak kekerasan pada anak-anak daripada bukan orang tua tunggal. Hal ini disebabkan keluarga-keluarga dengan orang tua tunggal biasanya lebih sedikit mendapatkan uang daripada keluarga lainnya, sehingga hal ini dapat meningkatnya risiko tindak kekerasan.

• Keluarga-keluarga dengan keretakan perkawinan yang kronis atau tindak kekerasan pada pasangannya mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga tanpa masalah seperti ini.

• Keluarga-keluarga yang didalamnya baik suami atau istri mendominasi pengambilan keputusan yang penting – seperti dimana mereka akan tinggal, apa pekerjaan yang dilakukan, kapan mempunyai anak, dan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk makanan dan rumah – mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga yang di dalamnya para orang tua membagi tanggung jawab untuk keputusan-keputusan ini.

F. Dampak Pada Anak-Anak
Akibat dari tindak kekerasan dan menelantarkan anak dapat menghancurkan dan mungkin lebih jauh lagi.

• Psikolog Yuni Megarini, S.Psi menyatakan bahwa anak akan mencontoh apa yang telah disaksikan selama bertahun-tahun bersama dengan orang tuanya. Pada tingkat ekstrim akan mengubah kepribadian anak.

• Luka-luka fisik seperti memar, goresan, dan luka bakar hingga kerusakan otak, cacat permanen, dan kematian.

• Efek psikologis dapat berlangsung seumur hidup dan mencakup perasaan rendah diri, ketidakmampuan untuk berhubungan dengan kawan sebaya, konsentrasi berkurang, dan kemunduran prestasi dalam belajar.

• Penyakit fisik seperti depresi, sangat gelisah, atau kekacauan identitas, selain meningkatkan risiko bunuh diri. Masalah-masalah perilaku sering muncul setelah tindak kekerasan, termasuk tindakan pelanggaran dan kriminalitas pada anak-anak muda.

• Anak-anak yang mengalami tindak kekerasan secara seksual dapat menunjukkan perilaku yang tidak lazim, seperti masturbasi. Pengaruh jangka panjang mencakup depresi, rendah diri dan masalah-masalah seksual, seperti menghindari kontak seksual, bingung mengenai seksualitas, atau melibatkan diri dalam pelacuran.
• Dalam buku “Pemulihan Orang Tua dan Anak” karya Ir. Jarot Wijanarko, pada halaman 16-18 terdapat suatu tabel aksi-reaksi yang menghubungkan sikap / perilaku orang tua dengan tanggapan anak, sebagai berikut :

Aksi Orang Tua
1. Tidak menepati janji.
2. Tidak mengaku salah.
3. Menolak untuk meminta maaf.
4. Tidak memiliki urutan prioritas.
5. Mendisiplin terlalu keras.
6. Mendisiplin dengan kemarahan.
7. Mendelegasikan pendidikan.
8. Memberi kebebasan berlebihan.
9. Tidak menghormati orang tua.
10. Mengirim orang tua ke Panti Jompo.
11. Suami tidak mengasihi istri.
12. Istri memberontak suami.
13. Menolak Firman Allah.
14. Selalu memuji anak lain.
15. Terlalu “diam”.
16. Tidak konsisten standar kehidupan.
17. Menyeleweng dalam pernikahan.
18. Selalu mengingat kesalahan.
19. Tidak memiliki kesaksian.
20. Tidak memberikan pendidikan rohani, materi, pelit.
21. Mengutamakan pekerjaan.
22. Mengancam.
23. Menekan, menyalahkan.
24. Memanjakan.
25. Tidak memperhatikan anak.
Reaksi Anak
1. Hati terluka.
2. Kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan orang tua.
3. Bereaksi terhadap kesombongan mereka dan kehilangan figur / teladan.
4. Merasa ayah terlu sibuk buat anaknya. Anak mengikuti, menjadi serabutan.
5. Hancur hati.
6. Memendam benih kekecewaan dan kepahitan.
7. Tidak menghargai orang tua sebagai figur / guru.
8. Melihat kebebasan sebagai penolakan dan ketidak-perhatian orang tua.
9. Anak tidak menghormati kakek-neneknya.
10. Anak akan menolak orang-orang yang lebih tua / kurang ajar.
11. Anak melawan ibunya. Anak kecewa / kepahitan dengan ayahnya.
12. Anak melawan ayahnya atau kecewa / kepahitan dengan ibunya / kehilangan figur
13. Hal yang sama dilakukan, tidak bisa takut akan Tuhan, cenderung nakal, susah dididik.
14. Merasa tertolak, minder, dan rendah diri.
15. Mencari “penerimaan diri” dari teman-teman.
16. Menjauh dari orang tua.
17. Kebencian, kehilangan figur. Menikah untuk “keluar” dari rumah.
18. Justru akan melakukan lagi, merasa tertantang untuk hal itu. Anak tidak pernah belajar arti pengampunan. Anak merasa ditolak secara pribadi.
19. Mengikuti norma dan etika dunia.
20. Anak tumbuh duniawi.
21. Membangun nilai hidup atas dasar hal-hal yang sementara.
22. Membenci, memberontak.
23. Menekan, menyalahkan adik-adiknya sebagai penyaluran.
24. Liar.
25. Mencari perhatian dengan nakal, usil, aktif dan berbagai kegiatan ekstrim.


G. Penanggulangan
Meskipun mengalami tindak kekerasan, anak-anak yang mengalami hal ini pada umumnya tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan yang ekstrim, dan banyak yang dapat menutupi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Sejumlah faktor dapat membantu menghindarkan anak dari akibat-akibat penganiayaan. Hal ini mencakup :

1. Aspek Psikologis
a. Peningkatan kecerdasan.
b. Penerimaan anak dengan baik.
c. Temperamen yang baik.
d. Membina hubungan yang akrab.

2. Penempatan anak-anak
Penanganan untuk anak yang telah dianiaya atau diterlantarkan biasanya mempunyai dua pilihan, yaitu :
a. Memisahkan anak dari orang tuanya dan menempatkan dengan kerabatnya, panti asuhan, atau departemen sosial.
b. Menempatkan anak dengan orang tuanya dan memberikan dukungan sosial pada keluarga itu, seperti konseling, makanan, dan pelayanan pemeliharaan anak.

Keputusan untuk memisahkan secara sementara seorang anak dari orang tua pelaku tindak kekerasan harus mempertimbangkan risikonya. Anak mungkin tidak memahami mengapa dia diungsikan dari rumahnya dan bahkan tidak menyadari bahwa dia sedang dianiaya atau ditelantarkan, sehingga pemisahan sementara tersebut dapat memberikan kesan pada anak bahwa dia telah melakukan suatu kesalahan dan sedang dihukum.

Hal lainnya yaitu kesulitan menemukan tempat yang sesuai untuk kondisi anak seperti ini karena sering anak memerlukan perhatian yang khusus. Jika anak tersebut menjadi beban bagi kerabatnya atau suatu lembaga, risiko penganiayaan mungkin lebih besar besar daripada tinggal dengan orang tua kandungnya.

Namun demikian, ada juga risiko membiarkan anak tetap tinggal bersama orang tua yang menganiayanya. Dukungan pelayanan mungkin tidak menyelesaikan masalah yang menimbulkan kekerasan dan anak akan dianiaya kembali atau bahkan dibunuh.

3. Program Pencegahan Dan Perawatan

• Program pencegahan yang dimaksud mencakup identifikasi para orang tua yang berisiko tinggi melakukan tindak kekerasan – seperti pasangan muda, orang tua tunggal, wanita yang menjadi ibu petama kali – dan memberikan pelatihan ketrampilan, konseling, pendidikan, dan dukungan sosial, agar dapat berkomunikasi secara efektif sehingga tidak memilih cara yang kasar untuk mengekspresikan dirinya.

• Berkaitan dengan program pencegahan, dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J memberikan pandangan bahwa penatalaksanaan kekerasan lebih utama dilakukan pada upaya pencegahan dengan menghilangkan atau mengurangi penyebabnya. Misalnya :
a. Masyarakat frustasi karena sulit mencari sesuap nasi atau sulit mendapat pekerjaan, maka pencegahannya menyediakan lapangan kerja agar mereka mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
b. Bila ditengarai bahwa kekerasan pada anak ada hubungannya dengan tayangan TV atau permainan komputer, maka tayangan dan permainan tersebut harus ditertibkan atau perlu dibatasi tayangannya.

• Program perawatan mencakup pengendalian terhadap kematian, kecacatan akibat perilaku kekerasan. Bila mengalami gangguan psikiatrik, korban harus menjalani pengobatan.


H. Daftar Pustaka
1. Gelles, Richard J. "Child Abuse." Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.
2. Wijanarko, Jarot, Ir. Pemulihan Orang Tua – Anak. Jakarta : Suara Pemulihan, 2003
3. Sabda. CD-ROM. Versi 3.00. Surakarta : Yayasan Lembaga SABDA, 2003.
4. Hidayat, Teddy, dr, Sp.K.J. “Konsultasi Kesehatan Jiwa”. Harian Umum Pikiran Rakyat April 2008.
5. UU RI No. 23 Th. 2002 tentang Perlindungan Anak. Jakarta : Sinar Grafika, 2007.
6. UU RI No. 23 Th. 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jakarta : Sinar Grafika, 2007.
7. PP RI No. 4 Th. 2006 tentang Penyelenggaraan Dan Kerja Sama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jakarta : Sinar Grafika, 2007.
8. Megarini, Yuni, S.Psi. Tindakan Kekerasan Terhadap Istri. Makalah Seminar Keluarga. POTM Gamaliel. 15 Mei 2008. GKI Anugerah, Bandung.

Tidak ada komentar: