19 Agustus 2008

Artikel-5 : Bertumbuh Dalam Masalah


Bertumbuh Dalam Masalah
(Ev. Seniman Laowo, S.Th.)
(Gembala Sekolah Kristen Gamaliel Bandung)
Daftar Isi
Pendahuluan
Gaya Pengasuhan Yang Salah :
Empat Gaya Pengasuhan
Ciri-ciri Push Parenting
Penyebab Push Parenting
Akibat Push Parenting
Beberapa Saran
Konsep Diri Yang Salah
Kesimpulan
Mengingat begitu kompleksnya permasalahan keluarga, maka saya akan mengangkat beberapa isu masalah keluarga yang menurut saya sedang dan akan menjadi masalah serius dalam keluarga. Ada beberapa pijakan pemikiran alkitabiah yang harus disadari ketika berbicara tentang masalah keluarga :

* Sebelum kejatuhan, manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dapat mencerminkan gambar Allah dengan benar. Itu adalah gambar Allah yang asli. Dengan masuknya dosa, manusia menyebrang dari apa yang disebut Anthony A. Hoekema sebagai “garis batas”, yaitu : hidup yang taat kepada Allah dan tanpa dosa, serta gambar Allah di dalam manusia menjadi rusak sebagai hasilnya. Calvin, Sang Reformator menggambarkan gambar ini sebagai yang cacat, lemah, rusak, tak berdaya, penuh sakit penyakit, dan tak berbentuk.
* Manusia membutuhkan pemulihan sebagai pembawa gambar Allah. Mengapa? Karena kerusakan gambar itu telah mempengaruhi manusia dalam segala bidang hubungan : dalam responnya kepada Allah, kepada sesama manusia, dan terhadap lingkungan yang diberikan kepadanya untuk diawasi, termasuk keluarga/rumah tangga. Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, pengaruh dosa telah merembes ke dalam keluarga. Menarik untuk dicermati hukuman Allah kepada Adam dan Hawa (Kej 3:16-19). Hukuman itu sangat berkaitan dengan keluarga : Istri akan menanggung rasa sakit dalam melahirkan (dari kehamilan sampai mengasuh anak), terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) karena suami berkuasa (Ibr. : Mashal) terhadap istri, susahnya mencari nafkah.
* Pemulihan itu tidak dapat dilakukan manusia. Inisiatif pemulihan hubungan itu berasal dari Allah di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus, kita dapat melihat gambar Allah di dalam kesempurnaannya. Melalui iman dan komitmen kepada-Nya, kita menjadi ciptaan baru (2Kor 5:17). Dengan demikian, keluarga yang ingin mengembalikan gambar Allah ke bentuk aslinya, keluarga itu harus ada di dalam Kristus. Inilah dasar tema di atas.
* Manusia diciptakan untuk member tanggapan kepada Allah. Manusia diciptakan untuk menjadi mitra perjanjian dengan Allah. Selain itu, manusia diciptakan untuk memberi tanggapan kepada orang lain sebagai partner (Kej 2:18,20). Namun tujuan ini telah rusak akibat dosa juga, termasuk keluarga. Keluarga tidak mampu lagi menjaga perjanjian dengan Allah. Peristiwa Kain dan Habel menjadi contoh untuk itu.

* Masalah yang muncul dalam keluarga sangat kompleks (multidimensi). Bisa komunikasi, keuangan, perselingkuhan, iri hati, keegoisan, dsb. Ketika masalah yang satu belum tuntas, muncul masalah yang baru. Apalagi kalau masalah-masalah yang muncul sangat berkaitan satu dengan yang lain. Lebih parahnya lagi, pelaku masalahnya sama (suami-istri-anak-mertua-menantu). Karena itu, sekalipun tahu banyak tentang solusi masalah keluarga, belum tentu dalam praktiknya bisa diterapkan.
* Keluarga yang sudah diselamatkan dan menjadi keluarga Allah sedang dalam proses menuju keserupaan dengan Kristus. Keluarga umat percaya ibarat “keluarga para musafir kehidupan” yang sedang dalam perjalanan antara “kehidupan di sini (dunia)” dan “kehidupan di sana (surga)”. Paulus melukiskannya dengan amat indah : Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. … aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Flp 3:12-14). Konsekuensinya adalah bahwa keluarga yang sudah percaya kepada Kristus tidak otomatis bebas dari persoalan keluarga. Keluarga Kristen perlu berjuang dan bertanggung jawab untuk membawa keluarganya menuju koridor Allah.
Dari pijakan pemikiran di atas, harus diakui bahwa permasalahan keluarga amat kompleks. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat ini kita dapat mendiskusikan setiap persoalan keluarga serta mencari solusinya. Karena itu, saya hanya akan mengangkat dua isu ini sebagai salah satu contoh masalah keluarga yang sedang “melanda” keluarga Kristen saat ini.
Jack dan Judick Balswick mengutarakan bahwa ada empat gaya pengasuhan orangtua :
Neglectful Parenting.
Gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan maupun pengawasan.
Permissive Parenting.
Gaya pengasuhan yang kuat dalam dukungan, namun lemah dalam pengawasan.
Authoritarian Parenting.
Gaya pengasuhan yang lemah dalam dukungan, namun kuat dalam pengawasan.
Authoritative Parenting.
Gaya pengasuhan yang mengkombinasikan kualitas terbaik dari Permissive dan Authoritarian.

Ciri-Ciri Gaya Pengasuhan "Push Parenting"
Saya akan memberi contoh fenomena yang sedang “menjangkiti” orangtua, yaitu : Push Parenting (masuk dalam Authoritarian Parenting). Elisabeth Guthrie dan Kathy Matthews memberikan beberapa ciri orangtua yang masuk dalam kategori Push Parenting :
* Mengatur nyaris setiap menit dari hidup anaknya dengan kursus-kursus di luar jam sekolah.Dari hari Senin-Minggu, anak dipenuhi dengan aktifitas yang membuat anak hampIr tidak punya waktu bermain.
* Menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain, nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana). Hukuman dan omelan akan diterima anak bila prestasi di sekolah tidak di atas rata-rata.
* Menekan anak memilih jurusan sekolah/universitas, kursus, atau minat lebih untuk tujuan membuat Biodata/Riwayat Hidup (CV) yang mengesankan daripada untuk memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi anak.
* Terlalu mencampuri persahabatan anak dengan teman-temannya.Bahkan orangtua akan mengintervensi gurunya di sekolah.
Biasanya penyebab dari gaya pengasuhan Push Parenting adalah
* Ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan dari orangtua.
Orangtua sangat takut kalau anaknya nanti ketika dewasa tidak bisa berkompetisi dan gagal. Ketidaknyamanan inilah yang mendorong orangtua melakukan apa saja, bahkan menuntut anak mereka secara berlebihan untuk meng-antisipasi kegagalan di depan.
* Kompensasi dari ketiadaan kesempatan di waktu lalu.
Menurut J. Drost, tidak masuk akal kalau beranggapan bahwa anak harus mencapai sesuatu karena orangtua sendiri tidak berhasil mencapainya di masa lalu. Inilah yang disebut oleh V.G. Beers sebagai : Tujuan Yang Tersembunyi.
* Anggapan bahwa jumlah “Kesuksesan” itu terbatas.
Hal ini berangkat dari ide keterbatasan di sekolah unggulan, sehingga lahirlah obsesi terhadap Sekolah Unggulan. Kesuksesan disamaartikan dengan bisa diterima di sekolah-sekolah unggulan. Sekarang ini, obsesi untuk masuk sekolah unggulan sudah masuk pada tahap Play Group.
* Terobsesi dengan Citra Ideal di Media.
Misalnya, acara TV Indonesian Idol, AFI, Mamamia, dsb. menjadi obsesi ba-nyak orangtua Indonesia. Semakin berprestasi seorang anak, seperti bintang-bintang di TV itu, maka anak itu akan semakin baik, dan itulah yang seharusnya menurut kebanyakan orangtua. Sebelum anak berprestasi seperti itu, orangtua sulit untuk merasa puas.
* Anak adalah “Miniatur Diri” orangtua.
Tidak sedikit orangtua yang kecanduan terhadap keberhasilan anak-anak mereka. Mereka menkmati sekali “kebanggaan” sebagai orangtua ketika anak-anak mereka berprestasi, tenar, dan dipuji oleh banyak orang. Roy Meadow menyebut gejala ini dengan nama : ABPS (Achievement By Proxi Syndrome).
Akibat dari gaya pengasuhan Push Parenting pada anak :
*Menciptakan anak yang rawan terhadap stress dan depresi.
Ada penyakit psikosomatis, misalnya : sakit perut, sakit kepala, gangguan tidur, dan makan. Menurut A.D. Lester, anak-anak yang mengalami krisis harus segera ditolong. Kalau tidak, aspek penyimpangan krisis yang tidak terselesaikan itu akan terus mengganggu seluruh kehidupannya sampai ia dewasa.
* Mementingkan prestasi dan mengabaikan kepribadian.
Menurut Norman Wright dan Gary Oliver : Ketika prestasi menjadi titik focus sasaran pengasuhan anak, maka kecenderungan tujuan pembentukan karakter anak akan terabaikan. Banyak orangtua yang terlalu sibuk memacu prestasi anak sampai melupakan tanggung jawab untuk membentuk karakter mereka.
* Kehilangan kebersamaan yang bermakna dengan keluarga.
Hasil penelitian di University of Michigan, pada tahun 1998 menunjukkan bahwa waktu bebas anak-anak di bawah usia 13 tahun berkurang seba-nyak 16% dalam satu generasi, yaitu dari 63 jam menjadi 51 jam seminggu.
Beberapa saran bagi orangtua tentang hal ini :
* Belajar untuk mendengar dan memahami anak.
Jean Illsley dan Connie Dawson memberikan ide yang brilian : Ketika memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak, seringkali para orangtua tidak mau mengajak anak ikut berunding, karena mereka berpikir tindakan itu hanya akan menunjukkan kelemahan mereka sebagai orangtua yang seharusnya berwewenang penuh atas anak. Tetapi sebenarnya justru tidak demikian. Dengan melibatkan anak menunjukkan penghargaan dan kepedulian orangtua pada anak.
* Terimalah anak dengan “apa adanya”, yaitu menerima anak sebagai karunia yang selama ini didambakan.
Steve & Sharon Biddulph :“Apa adanya” berarti mengakui bahwa anak tidak dapat menjadi sempurna dan bisa segalanya; kadangkala dia bisa berhasil, tetapi kadangkala dia juga bisa gagal.
* Dunia anak sebagai dunia bermain.
Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa memperhitungkan hasil akhir. Banyak orangtua beranggapan bahwa anak hanya dapat belajar ketika mereka melakukan kegiatan belajar yang serius. Padahal para pakar telah meneliti bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga.
B. Konsep Diri (KD) Yang Salah
Konsep Diri (KD) adalah gambaran yang diperoleh, dimiliki, dan dikembangkan seseorang mengenai dirinya, misalnya : bentuk fisiknya, prestasinya, keadaan keluarganya, prestigenya.
KD terbentuk dari keluarga, teman, masyarakat, sekolah, gereja, media massa, tempat pekerjaan.

KD sangat berkaitan dengan watak, yaitu : kebiasaan-kebiasaan dalam diri dan kehidupan kita, yang sangat tertanam dan berakar, sebagai hasil belajar dalam lingkungan dimana dibesarkan. Cara belajar itu adalah : Pengamatan, Peniruan dan Identifikasi, di samping mendengar dan menerima apa yang diajarkan oleh orang-orang yang berpengaruh bagi diri kita (Significant Others). Bisa ibu, ayah, nenek, kakak, atau … baby sitter, pembantu rumah tangga (PRT).

Sudah merupakan pandangan umum bahwa 80% dari watak kita merupakan hasil belajar yang kita alami selama 5 tahun pertama (masa balita). Jadi keluarga sangat mempengaruhi watak kita.

Beberapa contoh KD yang keliru :
* Terlalu menyanjung bahkan mengangungkan nilai kecantikan bagi anak wanita, atau ketampanan bagi anak pria. Misalnya, anak yang cantik akan disayang lebih daripada anak yang kurang cantik.
* Pengagungan materi atau kekayaan.
* Kebanggan secara berlebihan atau ketrampilan dalam bidang tertentu.
* Terlalu menyanjung anak yang pintar di sekolah.
Beberapa saran bagi orangtua :
* Mengajarkan prinsip Alkitab tentang KD yang benar, yaitu : diri kita sebagai pribadi yang unik, manusia berdosa, berharga di mata Allah, pribadi yang butuh kedewasaan, pribadi yang butuh bersosialisasi dengan orang lain, dsb.
* Menegakkan dan melakukan nilai Kristiani dalam keluarga.Misalnya : Ibadah keluarga yang kontinu, saling menerima di antara anggota keluarga, dsb.
* Menerima anak sebagaimana adanya.
Dari pemaparan dua contoh di atas, akhirnya saya masuk dalam suatu kesimpulan bahwa keluarga yang mampu bertumbuh dari masalah yang dihadapi adalah
* Keluarga yang menjadikan Tuhan sebagai pemandu keluarga.
* Keluarga yang selalu taat kepada Tuhan dalam pengambilan keputusan.
* Keluarga yang selalu setia pada tujuan pernikahan dan keluarga Kristen.
* Keluarga yang selalu mencari dan merayakan kemuliaan Allah Tritunggal.


Free Domain Name Address

Tidak ada komentar: