19 Agustus 2008

Artikel-3 : Suami Dalam Pernikahan Kristen


Suami Dalam Pernikahan Kristen
(Pdt. Tadeus D. Wardhana, S.Th.)
(Pembina Persekutuan Pemulihan Keluarga Bandung)

Pendahuluan

Judul makalah ini memang sederhana dan mungkin saja tidak menarik, karena penulis tidak ingin menarik pembacanya melalui judul tetapi melalui isinya. Namun maksudnya jelas : membahas tentang peran suami dalam pernikahan bagi orang Kristen.

Dari pengalaman keseharian tampak jelas bahwa banyak suami yang belum memahami dengan jelas dan benar mengenai perannya dalam pernikahan atau keluarganya. Berbagai konflik muncul dalam keluarganya sebagai akibat minimnya pengetahuan dan pemahaman Alkitabiah dan solusi yang diambil ber-kisar pada perceraian, pisah ranjang, saling menjelekkan dan mencurigai pasa-ngannya masing-masing atau bahkan dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian yang pasti. Inikah gambaran pernikahan Kristen yang sesungguhnya ?

Di dalam makalah ini, penulis tidak bermaksud mendaftar berbagai konflik yang terjadi dalam rumah tangga dan kemudian menguraikannya satu-persatu serta membuatkan solusinya. Penulis hanya ingin mengajak para suami untuk kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab. Mengadakan pembaharuan pada diri sendiri dan keluarga memang penting, tetapi arahnya menjadi tidak jelas bila tidak dituntun oleh Firman Tuhan.

Oleh karena itu, pembahasan makalah ini berkisar pada uraian tentang prinsip-prinsip alkitabiah yang berhubungan dengan peran suami dalam pernikahan Kristen. Hal ini dimaksudkan agar para suami memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang kehendak Allah dan mulai mengadakan pemulihan keluarga berdasarkan pemahaman tersebut.

Sistematika penyajian bahan diusahakan ringkas, mudah dicerna dan bahasanya sederhana, tetapi tidak mengurangi kualitas isinya. Makalah ini tidak tebal - bisa sekali duduk dan selesai - tetapi perlu direnungkan dan diambil maknanya, kemudian diterapkan dalam keluarga anda.

Bahan-bahan dalam makalah ini pernah disampaikan pada kesempatan terpisah di GBII Bukit Mulia, PD Pengurus POTM Gamaliel, Persekutuan Pemulihan Keluarga dan Seminar Keluarga POTM Gamaliel. Penulis yakin bahan ini juga sangat bermanfaat untuk disampaikan pada Ruang Artikel ini. Tuhan Yesus mengasihi keluarga anda. Amin.

Pernikahan merupakan langkah awal untuk membentuk keluarga. Di dalamnya, masing-masing pihak—laki-laki dan perempuan— mempunyai suatu kedudukan dan peran yang harus dijalankan agar dari pernikahan tersebut dapat terbentuk keluarga yang membawa kemuliaan dan hormat bagi Allah.

Pada dasarnya, keluarga merupakan salah satu lembaga yang Allah bentuk bagi manusia (Kej 2:24,25). Selain itu Allah juga yang membentuk lembaga pemerintahan dan jemaat. Sebagai sebuah lembaga, maka Allah juga menentukan berbagai hal yang berhubungan dengan keluarga ini. Salah satu hal yang dibahas dalam bab ini adalah tentang otoritas.

Untuk mengetahui bagaimana pengaturan Allah mengenai otoritas ini, maka saya mengajak anda untuk melihat kembali ke dalam Alkitab dengan membaca salah satu bagiannya dari 1 Kor 11:3 yang tertulis demikian : “ Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.”

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa Allah mengatur jalur otoritas yang berlaku dalam keluarga. Allah yang merencanakan ini semua agar keluarga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Allah ingin agar dalam keluarga, suami dan istri mempunyai peran dan tanggung jawab yang jelas sehingga lembaga keluarga ini dapat memenuhi kehendak Allah bagi keluarga.
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan otoritas maka kita perlu mengetahui apa arti kata tersebut. Kata otoritas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai pengertian sebagai berikut :
* Kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya.
* Hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain.
Tampak jelas dari pengertian di atas bahwa otoritas merupakan suatu wewenang sah yang dimiliki oleh pemegang otoritas untuk melakukan tindakan atau melaksanakan peraturan agar suatu lembaga dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam masyarakat.

Demikian pula dalam lembaga keluarga. Allah menetapkan susunan otoritas-Nya dalam 1 Kor 11:3 sebagai berikut :
Allah adalah kepala dari Kristus.
Sumber otoritas jelas ada pada Allah. Dialah yang merencanakan dan mengatur segala sesuatu, termasuk lembaga keluarga. Pengaturan yang diberikan-Nya sempurna dan harus kita laksanakan dalam kehidupan berkeluarga.

Posisi Allah sebagai kepala dari Kristus tidak menjadikan Kristus lebih rendah atau lebih hina dari Allah. Apalagi, dalam Kerajaan Allah, kepemimpinan tidak pernah mengandung arti menjadi "yang lebih besar". Posisi Kristus itu menunjukkan teladan dari sikap seorang hamba yang mau taat sepenuhnya pada kehendak Bapa. (Mat 20:25-28; Flp 2:5-9). (Barnest, 2003)
Kristus adalah kepala dari tiap laki-laki.
Kritus mendapat wewenang dari Allah untuk menjadi kepala dari tiap laki-laki, termasuk suami, bahkan kepala semua pemerintah dan penguasa. (Kol 2:10). Hal ini berarti bahwa Kristus adalah Penguasa, Pengarah atau Tuhan dari setiap orang Kristen. Mereka harus mengakui-Nya dan tunduk dalam segala hal pada cara pengaturan-Nya.
Laki-laki adalah kepala dari perempuan.
Laki-laki mendapat wewenang dari Kristus untuk menjadi kepala dari perempuan. Dalam konteks pernikahan, pada saat laki-laki dan pe-rempuan memasuki jenjang pernikahan maka posisi suami melekat dengan sendirinya pada laki-laki dan posisi istri juga melekat pada pe-rempuan. Sebagai kepala, suami mempunyai otoritas atas istrinya, dan istri wajib mengakui dan menghormati otoritas suaminya ini.

Posisi suami ini diperoleh bukan karena laki-laki berpenampilan menarik secara fisik, pandai mencari uang atau pintar secara akademis, tetapi memang karena Allah saja yang berkehendak menempatkan laki-laki pada posisi ini. Tidak ada alasan lain. Karenanya, ketundukan istri kepada otoritas suami merupakan wujud ketundukannya kepada otoritas Allah. Larry Christenson dalam bukunya “Keluarga Kristen” menggambarkan susunan otoritas dalam 1 Kor 11:3 sebagai “Peraturan Ilahi” yang mengatur tentang wewenang dan tanggung jawab yang diuraikan dalam Alkitab :
* Sang suami hidup di bawah wewenang Kristus dan bertanggung jawab kepada-Nya dalam hal memimpin dan memelihara keluarganya itu.
* Sang istri hidup di bawah wewenang suaminya, dan bertanggung jawab kepadanya sehubungan dengan caranya mengatur rumah tangga dan memelihara anak-anak mereka. Istri melaksanakan wewenangnya terhadap anak-anak atas nama dan sebagai pengganti suaminya.
* Anak-anak hidup di bawah wewenang kedua orang tua mereka.
Selanjutnya dia mengingatkan kita bahwa setiap penyimpangan dari wewenang yang telah diatur oleh Allah itu hanya akan mengakibatkan perpecahan, dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah berbalik kepada peraturan dasar Ilahi. (Christenson, 1994:12-13).

Dalam pernikahan Kristen, menjadi suami merupakan suatu kehormatan yang diberikan Allah bagi seorang laki-laki. Allah tidak memandang apakah laki-laki itu tampan atau tidak, rajin atau malas, sabar atau pemarah dsb. Ia tetap menempatkannya pada posisi sebagai suami sehingga posisi ini melekat dengan sendirinya pada saat memasuki jenjang pernikahan.

Allah mempunyai rencana bagi seorang suami. Allah ingin suami menjadi kepala keluarga, yang mempunyai otoritas atas istri dan anak-anak yang Dia percayakan pada mereka. Allah ingin ada suatu posisi yang jelas dan tegas bagi suami agar lembaga keluarga berjalan dengan tertib dan teratur dan pengaturan selanjutnya sudah diserahkan kepada Kristus. Jadi, suami mendapat wewenang dari Kristus untuk menjadi kepala keluarga.
Agar seorang suami dapat berfungsi sebagaimana mestinya sesuai dengan wewenang yang dimilikinya, maka ada karakteristik tertentu yang perlu dimilikinya. Saya ingin mengajak anda untuk membuka kembali alkitab dan membaca salah satu bagiannya yaitu dalam 1Tim 3:4,5 yang tertulis sebagai berikut : “ seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus jemaat Allah?” dan dalam 1Tim 5:8 yang tertulis sebagai berikut: “ Tetapi jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman”
Berdasarkan kedua bagian ini, ada empat karakteristik yang perlu diperhatikan oleh seorang kepala keluarga.
Seorang yang baik.
Kata baik di sini lebih menekankan pada aspek moralitas. Seorang suami harus menjadi teladan, khususnya dalam kesetiaannya kepada istri dan keluarganya. Ia harus mau “pikul salib” dalam melaksanakan wewenang yang dimilikinya agar dapat menjadi kepala keluarga yang baik. Kehidupan dan imannya yang teguh dapat ditunjukkan di dalam keluarga sebagai sesuatu yang layak ditiru.

Seorang yang disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.
Dengan wewenang yang dimiliki dan teladan yang diperlihatkan seorang kepala keluarga, maka seluruh anggota keluarga akan memahami peran sang kepala keluarga dan mereka akan tunduk serta menaruh hormat padanya. Suatu situasi yang terjadi karena adanya kesadaran bahwa sang Kepala keluarga layak untuk mendapatkan hal itu. Ketundukan ini muncul sebagai wujud dari ketaatan kepada Firman Tuhan dan wujud rasa hormat terhadap Kristus yang telah menempatkan seorang kepala keluarga yang baik di antara mereka.
Seorang yang tahu mengepalai keluarganya.
Tidak semua suami tahu bagaimana memimpin keluarganya. Tidak semua suami tahu bagaimana cara melaksanakan wewenang yang dimiliknya. Mendapat wewenang dari Kristus sebagai kepala keluarga tidak secara otomatis menjadikannya seorang kepala keluarga yang baik. Perlu ada pemahaman alkitabiah tentang posisinya ini.
Pada umumnya, suami berperan sebagai kepala keluarga secara diktator. Apa yang diputuskannya menjadi hukum dalam keluarganya. Semua anggota keluarganya harus taat pada hukum tersebut, terlepas dari setuju atau tidak. Perilaku yang ditampilkan dalam keluarga tidak begitu penting karena “Akulah raja dalam keluarga ini”. Hal ini terjadi karena orang tersebut menjadi kepala keluarga yang berpusat pada dirinya sendiri. Segala sesuatu harus sesuai dengan selera pribadinya. Tidak heran apabila sering terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang demikian.
Dalam kekristenan, seorang kepala rumah tangga haruslah seorang yang sudah lahir baru. Artinya, dia seorang yang sudah bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi dan Tuhan dalam kehidupannya. Tanpa diawali dengan kelahiran baru, mustahil dapat menjadi kepala keluarga yang sesuai dengan kehendak Allah. Mengapa demikian? Karena dengan lahir baru, seseorang menjadi ciptaan baru dalam Kristus (2Kor 5:17). Konsekuensinya, orientasi kehidupannya berubah, dari orientasi pada diri sendiri menjadi orientasi pada Tuhan Yesus (2Kor 5:15). Perjalanan kehidupannya hanya diarahkan agar sesuai dengan kehidupan Kristus (1Yoh 2:6).
Karena itu, seorang kepala keluarga yang sudah lahir baru tahu dan sadar bahwa posisi dan wewenang yang dimiliknya saat ini bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi berasal dari Kristus. Bukan karena kekuatan fisik atau kepandaiannya, tetapi merupakan kepercayaan dari Tuhan Yesus kepada dirinya. Kepercayaan yang harus dia jaga dengan segenap hati melalui ketaatan dalam kehidupannya.
Kehendak Allah bagi seorang kepala keluarga adalah bukan menjadi diktator tetapi menjadi pemimpin yang memberikan teladan dalam keluarganya. Teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kemurnian hidup. (1Tim 4:12). Yesus berkata kepada para murid-Nya, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:15). Yesus merupakan teladan yang sempurna bagi seorang pemimpin sehingga kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1Yoh 2:6).
Seorang yang memelihara seisi rumahnya.
Aspek lain dari seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab adalah mau memelihara seluruh anggota keluarganya. Mereka adalah orang-orang yang dipercayakan Tuhan berada di bawah kepemimpinan nya. Karena itu, meskipun seseorang harus bersusah payah dan berpeluh mencari nafkah seumur hidupnya (Kej 3:17-19), tugas ini merupakan tanggung-jawabnya dan tidak bisa dialihkan kepada orang lain. Memiliki wewenang dalam keluarga berarti ada tanggung jawab yang harus dilakukan demi keluarga yang dipimpinnya.
Memang ada kecenderungan saat ini bahwa istri ikut ambil bagian dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, hal ini tetap saja tidak menghilangkan kewajiban kepala keluarga untuk memelihara keluarganya. Kecenderungan ini justru harus disikapi dengan cermat karena beban istri menjadi lebih berat. Tugas istri pun sebagai pengelola rumah tangga tidak hilang dengan keikutsertaan dia mencari nafkah, justru tugasnya jadi bertambah. Apakah hal ini tidak mengganggu peran dan fungsi masing-masing dalam keluarga ? Memelihara keluarga tidak hanya berarti memenuhi kebutuhan fisik saja, tetapi juga kebutuhan rohani tiap anggotanya, dan ini bisa terlaksana apabila tersedia waktu dan perhatian yang memadai bagi anggota keluarganya.
Menjalani kehidupan sederhana bukanlah suatu hal yang tercela dihadapan Tuhan. Justru Firman Tuhan memperingatkan kita akan bahaya mencari uang secara berlebihan karena ingin kaya atau cinta uang (1Tim 6:9,10). Ketaatan akan tugas dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga haruslah menjadi perhatian utama. Alkitab berkata “ … jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman.” (1Tim 5:8). Suatu hal yang tercela dihadapan Allah.
Terdapat konsekuensi logis apabila seseorang menerima wewenang dari atasannya : dia harus tunduk dan mempertanggung-jawabkan penggunaan wewenang itu kepada atasannya. Hal yang sama berlaku juga bagi seorang kepala keluarga. Dia harus :
Tunduk kepada kehendak Kristus.
Sudah sewajarnya kepala keluarga tunduk kepada Kristus melalui ketaatan dalam hidupnya karena Kristus merupakan kepala suami. (1Kor 11:3). Dialah yang mengatur segala sesuatu agar tiap anggota keluarga berfungsi sebagaimana mestinya dan hal ini diwujudkan dengan pemberian wewenang kepada suami untuk berperan sebagai kepala keluarga.
Ketundukkan suami kepada Kristus haruslah berlandaskan kasih kepada-Nya. Dalam Alkitab tertulis bahwa "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.”(Yoh 14:15). Inilah satu-satunya dasar yang benar untuk taat kepada Kristus, yaitu karena suami mengasihi Tuhan Yesus.
Bertanggung-jawab atas kepemimpinannya dalam keluarga.
Alkitab mengingatkan bahwa kita akan memberi pertanggungjawaban tentang diri kita sendiri kepada Allah (Rom 14:12). Seorang kepala keluarga pada akhirnya harus mempertanggung-jawabkan wewenang yang dimilikinya dihadapan Kristus. Apakah dilaksanakan dengan baik atau tidak, semuanya akan terbuka dihadapan Kristus.
Hal ini diharapkan dapat mengingatkan kembali para suami agar lebih bersungguh-sungguh lagi berfungsi sebagai kepala keluarga. Maju mundurnya sebuah keluarga bergantung pada kepemimpinan suami. Dia tidak bisa melemparkan tanggung jawab ini kepada istrinya dengan dalih bahwa istrinya lebih dominan dalam keluarga atau lebih mampu memimpin keluarga. Kepemimpinan keluarga tetap berada pada suami karena memang demikianlah kehendak Allah.
Keluarga adalah milik Allah. Ia menciptakannya. Ia menentukan susunan intinya. Ia pula yang menentukan maksud dan tujuannya. Tugas kita adalah memimpin keluarga agar dapat membawa kemuliaan dan hormat bagi Allah. (Christenson, 1994:8).
Bab 3. Suami Terhadap Istri
Bagi seorang laki-laki, bertugas sebagai kepala keluarga merupakan suatu amanat dari Tuhan yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ini merupakan kepercayaan besar yang menuntut pertanggungjawaban kelak dihadapan-Nya.

Seorang kepala keluarga mempunyai peran ganda : sebagai suami bagi istrinya dan sebagai ayah bagi anak-anaknya. Kedua peran tersebut menuntut pengetahuan dan pemahaman tersendiri. Namun, dalam bab ini pembahasan akan difokuskan hanya pada peran sebagai suami bagi istrinya. Peran ayah terhadap anak akan dibahas ringkas dalam bab 4.
Untuk mengawali pembahasan, saya ingin kembali mengajak anda untuk membuka Alkitab dan memusatkan perhatian pada Ef 5:25-33, Kol 3:19, 1Tim 5:8, 1Pet 3:7 karena uraian di bawah ini akan bersumber dari ayat-ayat tersebut.
Berdasarkan bagian Alkitab di atas, paling tidak ada lima hal yang perlu dilakukan oleh seorang kepala keluarga yang berperan sebagai suami :
Mengasihi istri.
Tugas utama seorang suami dalam pernikahan Kristen adalah mengasihi istrinya. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan dalam Ef 5:25 : “ Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Ini merupakan perintah, bukan pilihan antara suka dan tidak suka, tetapi sesuatu yang harus dilaksanakan.
Suami perlu memahami makna kata “kasih (agape)” dalam ayat ini. Mengapa demikian ? Karena pemahaman yang dimiliki selama ini sering berbeda dengan makna Alkitab. Kasih sering dikaitkan dengan pemenuhan selera pribadi : “Saya mengasihi istri bila dia selalu memenuhi apa yang saya inginkan.” atau “Saya mengasihi istri bila ...” atau “saya mengasihi istri selama dia ....” Ini jelas bukan pemahaman alkitabiah, tapi pemahaman kedagingan yang harus segera ditinggalkan bila ingin menjadi suami yang berkenan kepada-Nya.
Makna Alkitabiah dari kasih berkaitan erat dengan pengorbanan diri atau “pikul salib”. Bila dikatakan “saya mengasihi istri”, maka hal itu berarti “saya siap berkorban demi istri” atau “saya rela ’pikul salib’ bagi istri”. Hal ini sudah dicontohkan oleh Tuhan Yesus dengan “menyerahkan diri-Nya” bagi jemaat (Ef 5:25). Suatu teladan yang sempurna.
Mengasihi istri berlangsung seumur hidup. Kasih ini tidak bergantung pada kondisi fisik atau keadaan sang istri. Ketika istri masih muda dan tampak menarik atau sudah tua dan berkurang daya tariknya, kasih suami tetap tidak berkurang. Ketika istri menjadi sedemikian cerewet dan menyebalkan, kasih suami memberikan ketenangan pada sang istri. Ketika istri membutuhkan dukungan moril, kasih suami memberikan peng hiburan dan kesegaran pada dirinya. Suatu kasih yang terus memberi, rela berkorban, tanpa syarat, dan tanpa mengharapkan imbalan. Suatu kasih yang senantiasa memikirkan kebahagian sang istri.
Mungkin ada suami yang tidak sependapat dengan pemahaman di atas dan berkata “Itu ‘kan idealnya. Mana mungkin bisa dilakukan? Memang ada suami yang mau demikian? Kalau cuma ngomong aja sih gampang. Lihat faktanya! Banyak istri yang menyebalkan dan menyusahkan suami, sukar diatur dan bikin pusing suami, dsb. Apa yang begini masih perlu dikasihi?” Wah … jangan emosi dulu. Sabar … sabar … sabar.
Perkataan yang demikian memang sering terdengar di sekitar kita. Namun, saya ingin mengajak para suami untuk kembali merenungkan secara cermat makna kasih menurut alkitab. Yesus merupakan teladan kasih. Dia rela mati bagi kita pada saat kita … sudah jadi baik? … sudah taat perintah Allah? … atau peduli pada Allah? TIDAK ! Manusia tidak pernah peduli pada Allah, hanya peduli pada dirinya sendiri saja. Tetapi, Dia rela mati bagi kita pada saat kita masih senang berbuat dosa, masih menjadi seteru Allah (Rom 5:8). Tidakkah hal ini menyentuh hati anda untuk berbuat hal yang sama pada istri anda, apapun keadaannya ?
Lalu, apakah kasih seperti itu bisa saya lakukan? BISA ! Tidak pernah Tuhan Yesus memberi perintah yang tidak bisa kita lakukan. Dia berkata “Pikullah kuk yang kupasang … Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:29,30). Dia menjamin bahwa perintah-Nya bisa dilaksanakan dalam kehidupan anda. Satu-satunya alasan agar anda bisa mengasihi istri anda apa adanya adalah karena “saya mau taat pada Firman Tuhan.” Hanya itu saja, tidak ada alasan lain !!
Menghormati istri.
Mari kita buka kembali Alkitab dan memusatkan perhatian pada 1Pet 3:7 sebagai berikut : “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari anugerah, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”
Berdasarkan ayat di atas, Alkitab menyatakan bahwa suami harus hidup bijaksana dengan istrinya. Artinya, suami harus bersikap penuh pengertian - dengan budi pekerti yang baik - terhadap istrinya dan menyadari sepenuhnya bahwa dia merupakan kaum yang lebih lemah” yang memerlukan bimbingan dan perlindungan dari seorang suami.
Selanjutnya, hidup bijaksana dengan sang istri dapat diwujudkan dengan sikap menghormatinya. Menghormati istri berarti menghargai keberadaannya selayaknya, sebagai orang istimewa yang ditempatkan Allah menjadi penolong bagi suami (Kej 2:18). Mengapa harus demikian? Karena Firman Tuhan menyatakan bahwa istri merupakan “teman pewaris dari anugerah, yaitu kehidupan”.
Dalam kehidupan keseharian, kita melihat fakta bahwa ada suami yang merendahkan, mengejek, dan berbicara kasar kepada istri, bahkan dihadapan orang banyak. Memang memprihatinkan. Dia tidak me-nyadari betapa istimewanya istri di hadapan Allah. Bila ada kekura-ngan pada sang istri, maka kewajiban suami untuk membimbing dia dengan baik, bukan mengejek atau menghinanya. Para suami seharusnya tidak melakukan perbuatan tercela tersebut kepada istrinya.
Alkitab dengan tegas memperingatkan suami bahwa bila dia gagal untuk hidup bijaksana dengan menghormati dan memberikan perhatian terhadap istrinya, jangan harap doanya dijawab Tuhan. Dalam pandangan Allah, istri merupakan “teman pewaris” yang harus diperhatikan dengan selayaknya oleh suami supaya “doamu jangan terhalang.”
Membina kerohanian istri.
Pernahkah para suami berpikir bahwa mereka adalah imam dalam keluarganya. Bukan pendeta tetapi anda sendiri ! Kalau belum perhatikan Firman Tuhan berikut ini : “ Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri.” Di dalam Kristus, setiap orang percaya secara pribadi dapat mendekati dan menjumpai Allah. Penerapannya dalam keluarga adalah suami dapat bertindak sebagai imam bagi istri dan anak-anaknya.
Perhatian utama seorang suami dalam hal ini adalah pertumbuhan kerohanian istrinya. Dia merupakan orang yang dipercayakan Allah untuk dibina oleh suaminya. Tanggung jawab ini tidak bisa dialihkan pada seorang pendeta atau orang lain, tetapi benar-benar merupakan tugas mulia yang disediakan Allah bagi seorang suami.
Saya mendengar beberapa orang suami berpendapat lain. Mereka berpikir bahwa mereka sudah membawa istri dan anak-anaknya ke gereja setiap hari Minggu, bahkan ibadah lainnya pada pertengahan minggu, dan hal itu dirasa lebih dari cukup. Mengapa harus ditambah lagi dengan tugas pembinaan kerohanian lainnya dalam keluarga? Bukankah hal itu menambah repot tugas sang suami?
Memang benar bahwa tugas suami untuk mencari nafkah bagi keluarga dapat menghabiskan waktu setengah dari hidupnya setiap hari, sehingga pulang ke rumah dalam keadaan yang sudah lelah. Memang benar bahwa membawa seluruh anggota keluarga secara rutin ke gereja merupakan suatu bentuk ketaatan kepada kehendak Allah (Ibr 10:25). Karena itu, para suami sering menganggap semua itu sudah mencukupi dan akhirnya melalaikan fungsinya sebagai imam dalam keluarga.
Namun jangan lupa bahwa keluarga merupakan lembaga yang Allah bentuk dan diatur sedemikian rupa sehingga rencana Allah dapat terlaksana dan mendatangkan kebaikan bagi seluruh anggotanya (Rom 8: 28). Pengaturan yang Allah berikan tidak dimaksudkan untuk merepotkan sang suami, tetapi justru menolongnya untuk berfungsi sebagaimana mestinya sebagai kepala keluarga.
Sudahkah anda membaca Alkitab setiap hari bersama keluarga? Sudahkah anda berdoa secara teratur bagi dan bersama keluarga? Ada banyak buku renungan yang dapat menolong anda melakukan hal ini, bila perlu. Apakah terlalu berat dan merepotkan anda sebagai kepala keluarga? Seharusnya tidak. Saat itu justru seharusnya merupakan waktu yang menyenangkan untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus. Meskipun dilakukan dalam waktu yang tidak lama setiap hari, namun hal ini dapat memupuk dan membina kerohanian istri anda.
Memelihara dan memenuhi kebutuhan istri.
Suami mempunyai tanggung jawab untuk memelihara kehidupan istrinya seperti yang tercantum dalam Ef 5:28,29 : “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Ditegaskan pula bahwa perhatian suami pada pemeliharaan tersebut sama seperti dia memberikan perhatian kepada tubuhnya sendiri.
Hal ini dengan jelas ditunjukkan oleh Kristus, sebagai Kepala jemaat, yang memelihara dan merawat jemaat-Nya dengan penuh kasih hingga Ia rela “menyerahkan diri-Nya baginya”(Ef 5:25).
Hal yang sama berlaku pula bagi para suami : memelihara dan merawat istrinya dengan penuh kasih. Alkitab menegaskan kembali bahwa “... Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri ...”(Ef 5:33). Kasih Allah sajalah yang memungkinkan suami melakukan hal ini dengan sikap rela berkorban demi kebahagiaan istrinya. Manakala istri membutuhkan sesuatu, suami dengan penuh kesungguhan berusaha memenuhi sesuai dengan kemampuannya. Bahkan manakala istri sudah mulai sakit-sakitan, perhatian dan pemeliharaan suami tidak pernah berkurang.
Kegagalan suami untuk rela berkorban dalam memelihara kehidupan istri atau lari dari tanggung jawabnya merupakan suatu perbuatan yang tercela dihadapan Tuhan. Alkitab dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa “ Tetapi jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman.” (1Tim 5:8). Janganlah menjadi orang yang demikian karena tidak mendatangkan ucapan syukur dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus !
Bekerjasama sebagai satu tim.
Seorang kepala keluarga tidak dapat bekerja dengan baik bila ia seorang diri, tanpa kehadiran seorang penolong di sisinya, sebab kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya terbatas. Karena itu Allah berkata "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2: 18) dan Allah menempatkan istri menjadi seorang penolong yang dimaksud oleh-Nya.
Bersama dengan istrinya, kepala keluarga melaksanakan fungsinya dalam keluarga sebagai sebuah tim yang terpadu, saling melengkapi satu sama lain. Mereka bekerja sama dalam membuat perencanaan dan pengelolaan rumah tangga dan memelihara serta mendidik anak-anak yang dipercayakan Tuhan pada mereka. Maju mundurnya suatu keluarga bergantung pada efektifitas dan kesungguhan kerja tim ini.
Dalam suatu kesempatan, Yesus berkata bahwa “Setiap ... rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.” (Mat 12:25). Jelas bahwa suami sebagai kepala rumah tangga mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan keutuhan keluarganya. Karena itu pendelegasian wewenang yang dimilikinya menjadi suatu keharusan. Apakah suami dapat mengurus anak-anak dengan baik sementara ia harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya? Tentu saja tidak. Ia perlu mendelegasikan wewenang kepada istrinya. Pendelegasian ini memungkinkan kerja tim menjadi lebih baik, karena pengaturan dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga pada situasi mendesak dapat dilakukan istri, meskipun nantinya ia harus memberikan laporan pada suaminya. Namun perlu diingat bahwa tanggung jawab utama tetap ada pada tangan suami sebagai kepala istri.
Bab 4. Ayah Terhadap Anak
Tugas lain yang perlu diperhatikan sebagai seorang kepala keluarga adalah peran sebagai ayah terhadap anak-anaknya. Peran ini pun tidak secara otomatis bisa dilakukan dengan baik dan benar bila tidak dilandasi dengan pemahaman Firman Tuhan yang baik dan benar pula. Oleh karena itu, uraian di bawah ini berpusat pada Firman Tuhan agar dapat menolong para kepala keluarga dalam menjalankan fungsinya sebagai ayah.
Mengasihi anak.
Tuhan Yesus sangat mengasihi anak-anak. Ia membuka diri terhadap kehadiran anak-anak dan memberkati mereka. Bahkan siapa saja yang menyambut kehadiran seorang anak sama artinya dengan me-nyambut kehadiran-Nya (Mat 18:5). Sedemikian berharganya anak bagi Yesus, maka Dia memperingatkan kita agar tidak memandang rendah anak-anak (Mat 18:10).
Hal yang sama perlu dilakukan oleh seorang ayah terhadap anak-anak yang dipercayakan Tuhan hadir dalam keluarganya. Paul D. Meier, M.D. dalam bukunya “ Membesarkan Anak Dan Pengembangan Watak Secara Kristen ” menyatakan bahwa orang tua juga harus menganggap anak-anak mereka sebagai suatu pribadi yang bernilai. Pribadi yang memerlukan kasih sejati, perhatian dan dorongan dari mereka dan hal ini dapat ditunjukkan terlebih dahulu dengan sikap
saling mengasihi antara suami dan istri.
Mengasihi anak berarti rela berkorban bagi kebahagiaan anak. Hal ini tidak berarti bahwa segala keinginan anak harus dipenuhi. Adakalanya pukulan harus diberikan bila perlu. Semuanya itu harus dalam konteks kasih. Kegagalan seorang ayah dalam mengasihi anak-anaknya secara baik dan benar akan mengakibatkan anak-anak menjadi bebal dan Ams 17:25 menegaskan bahwa “Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.” Sebaliknya, kasih yang diberikan secara tepat akan membuat “Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia.” (Ams 23:24)
Mendidik anak.
Banyak para ahli berpendapat bahwa masa usia enam tahun pertama merupakan masa pembentukan kepribadian seseorang. (Meier, n.d.: 33). Masa ini merupakan masa “emas” bagi seorang ayah untuk mendidik anak agar terbentuk kepribadian yang sesuai dengan Firman Tuhan. Karena itu sangat penting bagi seorang ayah untuk mulai mendidik anak sejak dini agar masa “emas” tersebut dapat dilalui dengan baik.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya :
Mendidik dalam pengajaran & nasehat Firman Allah.
Alkitab menegaskan bahwa seorang ayah “ … janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:4). Ini memberi petunjuk bahwa dalam mendidik anak, ada hal-hal yang harus diperhatikan :
Didikan yang diberikan jangan sampai membangkitkan amarah dalam diri anak. Artinya jangan terus-menerus menggusari dan mencari-cari kesalahan anak-anak, sehingga membuat mereka marah dan jengkel. Memang selama proses pendidikan dalam keluarga, anak dapat saja berbuat salah. Mungkin karena aturan tidak jelas, perintah tidak dipahami atau memang anak tersebut bandel. Namun sepanjang hal itu masih dapat ditolelir, pemberian nasehat dan penjelasan yang mudah dipahami anak akan lebih bermanfaat daripada hukuman fisik secara langsung. Terlebih lagi mengungkit-ungkit kesalahan anak yang sudah lalu akan melukai perasaan anak dan menimbulkan perasaan bersalah berkepanjangan, rendah diri dan dendam.
Didikan yang diberikan harus bepusat pada ajaran dan nasihat Tuhan. Pengetahuan pertama yang harus diberikan pada anak adalah pengertian tentang takut akan TUHAN dan pengenalan akan Allah. (Ams 2:5). Seorang ayah (didukung oleh istrinya) bertanggung jawab untuk memberi didikan alkitabiah dan rohani kepada anak-anak dalam keluarga. Hal ini bukan tugas gereja atau sekolah Minggu. Gereja dan sekolah Minggu hanya membantu didikan dari orang-tua.
Mendidik dengan cara yg sesuai.
Ajarlah seorang anak cara hidup yang patut baginya, maka sampai masa tuanya ia akan hidup demikian. (Ams 22:6, BIS). Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam mendidik anak perlu dipikirkan cara yang sesuai untuk tiap tingkatan umur anak. Cara mendidik anak usia 3 tahun akan berbeda dengan usia anak 6 tahun, 12 tahun dst. Tiap-tiap masa perkembangan anak memerlukan cara yang berbeda. Namun semuanya itu harus berpusat pada satu hal yaitu melatih anak cara hidup yang patut baginya. Artinya, melatih anak untuk memilih jalan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan.
Paul D. Meier menyatakan bahwa sekitar 85% kepribadian seorang dewasa telah terbentuk pada saat usia 6 tahun. Setelah usia 6 tahun tersebut, maka yang dapat dilakukan adalah memoles sisa yang 15% itu guna membentuk anak menjadi remaja Kristen yang ideal. (Meier, n.d : 95).
Tampak bahwa 6 tahun pertama kehidupan anak merupakan masa “emas” untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran Alkitabiah pada diri seorang anak. Masa ini juga akan menjadi masa “kritis” bila seorang ayah gagal memanfaatkan waktu yang berharga ini. Mengapa ? Karena “... sampai masa tuanya ia akan hidup demikian.”
Mendisiplin anak-anak.
“Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibr 12:7). Ini merupakan pertanyaan yang ditujukan bagi setiap ayah yang sedang mendidik anak-anaknya. Hajaran (chasten = disiplin) merupakan otoritas yang dimiliki seorang ayah untuk mendisiplin anak. Ketika anak harus didisiplin, seorang ayah harus tanpa ragu menggunakan otoritas ini. Kegagalan sang ayah menerapkan disiplin pada anak akan mengakibatkan anak menjadi bebal dan akan “ menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.” (Ams 17:25).
“Selanjutnya: Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati ;” (Ibr 12:9). Disiplin pertama yang harus diperoleh anak-anak adalah di dalam keluarganya, dari sang ayah. Jangan takut untuk melaksanakan disiplin. Jangan berpikir bahwa anak-anak akan membenci anda bila mereka didisiplin. Alkitab menegaskan bahwa bila disiplin dilaksanakan dengan baik dan benar maka anak-anak akan menghormati ayah mereka. Peringatan Alkitab berikut ini perlu diperhatikan : “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. (Ams 13:24). Dengan disiplin maka diharapkan anak-anak akan hidup dalam ketaatan dan kekudusan.
Dalam melakukan disiplin pada anak-anak harus diperhatikan dua hal berikut ini :
Jangan bangkitkan amarah.
“Jangan terus-menerus menggusari dan mencari-cari kesalahan anak-anak Saudara, sehingga membuat mereka marah dan jengkel.” (Ef 6:4, FAYH). Ini merupakan nasihat yang berharga bagi seorang ayah dalam mendisiplin anaknya. Anak harus mendapat penjelasan yang bisa dia mengerti mengapa ayahnya marah, mengapa dia tidak boleh bermain, mengapa dia tidak boleh jajan, dsb. Penjelasan yang dilandasi kasih akan menentramkan hati anak yang mungkin juga ikut terbawa emosi, sehingga dia memahami maksud dari disiplin itu.
Jangan mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah lalu. Anak biasanya lebih cepat melupakan hal-hal yang sudah berlalu karena dia lebih mudah memberikan pengampunan. Bila ayahnya mengungkit-ungkit lagi maka sama artinya mengorek luka yang sudah lama dan akan berakibat anak menjadi marah, jengkel dan timbul dendam Hindarilah hal yang demikian. Lebih baik “... didiklah mereka dengan tata tertib yang penuh kasih dan yang menyukakan hati Allah, dengan saran-saran dan nasihat-nasihat berdasarkan Firman Allah.” (Ef 6:4, FAYH).
Jangan sakiti hati anak.
Penerapan disiplin tidak dimaksudkan untuk menyakiti hati anak. Memang pada saat diberikan, disiplin akan mendukakan hati anak (Ibr 12:11). Tetapi sesudah itu kita akan melihat hasilnya, yaitu pertumbuhan dalam hidup kerohanian anak. Disiplin itu menyebabkan anak hidup menurut kemauan Allah, dan menghasilkan perasaan sejahtera pada dirinya.
Nasihat dari Amsal berikut ini patut direnungkan seorang ayah :
“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.”(Ams 29:17).

Bab 5. Kebutuhan Suami

Tak bisa dipungkiri bahwa, selain memiliki tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan, seorang suami juga memiliki berbagai kebutuhan pribadi yang perlu dipenuhi. Beberapa di antaranya akan dibahas dalam bab ini.
Dihormati & Dihargai
Sebagai suami, kebutuhan ini melekat dengan sendirinya. Ini bukanlah “rasa haus” akan hormat dan penghargaan dari seorang suami, tetapi karena memang Allah telah mengaturnya sedemikian rupa sehingga suami mendapat hak untuk dihormati dan dihargai. Bisa anda bayangkan bila seorang suami tidak dihargai dan dihormati oleh istrinya. Suami tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya
Sebagai kepala istri, dihormati berarti dijaga nama baik dan harga dirinya. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam diri suami, tidak mengurangi kebutuhan akan rasa hormat ini. Seorang istri yang dapat menjaga nama baik dan harga diri suaminya akan mendorong suami memimpin keluarga dengan lebih baik lagi.
Demikian pula dengan penghargaan dari istri kepada suami. Menghargai suami berarti memberikan perhatian dan memandang penting keberadaan suami. Kegagalan seorang istri untuk memberikan penghargaan yang layak pada suaminya sama artinya dengan pelecehan terhadap posisi suami sebagai kepala istri.
Amsal 12:4 mengingatkan kita bahwa “ Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.”
Semangat & Penghiburan
Suami anda bukanlah seorang yang sempurna atau yang tidak pernah mengalami kegagalan. Ada saatnya dimana seorang suami mengalami patah semangat dalam menjalani kehidupan ini. Mungkin dikarenakan tekanan dalam pekerjaannya, di PHK, usaha bangkrut, ditipu orang lain, kenakalan anak-anak atau berbagai hal lainnya.
Inilah merupakan saat yang tepat bagi seorang istri untuk menunjukkan kualitasnya sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya. Dia tidak lari dari tanggung jawabnya sebagai istri, tetapi siap memberikan semangat baru dan penghiburan bagi suaminya. Perkataannya “... seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Ams 16:24) dan “Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” (Ams 31:11). Betapa beruntungnya suami yang mendapatkan istri seperti ini karena “ Ia lebih berharga dari pada permata.” (Ams 31:10)
Tahu bahwa dia andalan keluarga.
Banyak suami yang tidak menyadari bahwa dia merupakan andalan bagi keluarganya. Diandalkan tidak hanya sebagai tulang punggung keluarga, tetapi juga secara khusus sebagai “seorang bapak” bagi istrinya. Seorang yang menjadi pengayom dan pelindung bagi keluarganya.
Praktek-praktek seperti “menyunat” gaji sebelum diberikan pada istri, lebih mementingkan kesenangan pribadi (mis : olah raga, memelihara burung, dsb.) atau lebih mengutamakan pekerjaan di atas segalanya, merupakan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa kesadaran akan keberadaan suami sebagai andalan keluarga kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya.
Istri harus berperan aktif untuk memberikan masukan bagi suaminya. Pemusatan perhatian suami terhadap satu hal (mis. pekerjaan) dapat menyebabkan perhatiannya terhadap keluarga menjadi berkurang, meskipun pada akhirnya hasil yang diperoleh suami digunakan untuk kepentingan keluarga. Namun, peran suami tidak sebatas hanya sebagai tulang punggung keluarga, tetapi dia juga harus memberikan perhatian dan waktunya bagi keluarga, terutama istrinya.
Ketundukan istri kepada suaminya tidak menghilangkan kewajiban istri untuk “menjaga” suaminya. Allah menganugerahkan akal budi kepada seorang istri untuk melihat berbagai hal yang terjadi dalam keluarganya. Bila terjadi hal-hal yang dianggap merugikan keharmonisan atau keutuhan keluarga, maka istri harus cepat tanggap memberikan masukan kepada suaminya. Namun, Istri harus tetap mengandalkan suami dalam menentukan keputusan akhir. Bagi suami, “… istri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.” (Ams 19:14).
Keluarga merupakan lembaga yang Allah dirikan. Di dalamnya terdapat hak dan kewajiban yang dimiliki oleh suami istri. Semuanya itu diatur oleh Allah sedemikian rupa sehingga salah satu pihak tidak merasa lebih unggul dari pihak lainnya. Allah mengasihi anda dan pasangan anda. Tidak ada yang menjadi “anak emas”.

Karena itu, ada kewajiban bersama yang harus dilakukan oleh suami istri secara bersamaan agar keduanya menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Kekurangan pasangan kita diisi oleh kelebihan kita dan kekurangan kita diisi oleh kelebihan pasangan kita. Dengan demikian terjadi keseimbangan dalam menjalani kehidupan berkeluarga ini.
Kewajiban bersama yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Saling mengasihi.
Suami dan istri dipanggil untuk saling mengasihi. Ayat-ayat Alkitab berikut ini : “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Ef 5:25). “Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya...” (Tit 2:4), menyatakan tanggung jawab dari sikap saling ketaatan. Yaitu tiap pihak secara sukarela mengasihi dan mau taat terhadap yang lain. Ketaatan yang bersifat timbal balik ini memberikan kepada suatu keluarga dasar yang kuat.
Saling merendahkan diri.
Saling merendahkan diri di dalam Kristus adalah suatu prinsip rohani yang umum. Alkitab menegaskan pada suami istri agar “ ... rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” (Ef 5 :21). Prinsip ini harus diterapkan pertama-tama dalam keluarga Kristen. Ketundukan, kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, dan toleransi harus merupakan ciri khas dari setiap anggota keluarga Kristen. Istri harus tunduk (yaitu, tunduk di dalam kasih) kepada tanggung jawab suaminya selaku pemimpin dalam keluarga. Suami harus tunduk kepada kebutuhan istrinya dengan sikap kasih dan pengorbanan diri.
Jika setiap pasangan suami isteri Kristen memberlakukan prinsip ini dalam rumah tangganya, dapat dipastikan bahwa tidak ada suami yang menindas isteri dan tidak ada isteri yang tidak tunduk dan tidak hormat kepada suami, karena mereka saling memperlakukan dengan penuh kasih sayang dan hormat.
Saling memenuhi kewajiban.
Dalam kekristenan, suami dan istri masing-masing mempunyai hak untuk mendapatkan kesetiaan yang penuh dari pasangannya. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibr 13:4) Beberapa kelompok masyarakat hanya mengharapkan kesetiaan pihak istri, namun standar Tuhan adalah kesetiaan oleh tiap pihak. Setiap pihak berkewajiban untuk memenuhi hak yang dimiliki pasangannya. Alkitab menegaskan hal ini dengan menyatakan bahwa “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.” (1Kor 7:3).
Saling mempercayai.
Menurut KBBI, makna kata percaya berarti yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (dapat memenuhi harapan, jujur, bertanggung jawab, dsb.).
Dalam Ams 31:11 ditegaskan bahwa terhadap istri yang cakap “Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” Ini berarti bahwa sang suami yakin benar atas kemampuan istrinya dalam mengelola rumah tangga dan menjadi penolong yang sepadan baginya sehingga ia dapat menaruh kepercayaan kepadanya.
Demikian pula pada bagian lain dalam Alkitab, Efesus 5:22 “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, “ dan ditegaskan lebih lanjut dalam Efesus 5:24, bahwa ketundukan tersebut mencakup “dalam segala sesuatu.” Hal ini menunjukkan bahwa ada suatu keyakinan pada sang istri akan kemampuan suaminya untuk memenuhi harapan, bersikap jujur dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, khususnya sang istri.

“ Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; “ (Mzm 127:1). Ayat ini mengingatkan kita bahwa keluarga adalah milik Allah. Ia menciptakannya. Ia menentukan susunan intinya. Ia menentukan maksud dan tujuannya. Rumah tangga yang kita bangun selama ini tetap menjadi hasil karya-Nya. (Christenson, 1994:8).
Karena itu pemahaman akan fungsi, tugas dan tanggung jawab, hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam keluarga perlu diselaraskan dengan Firman Tuhan. Tanpa itu, mustahil sebuah keluarga dapat berkenan di hadapan Allah, memuliakan nama-Nya dan mencapai tujuan Allah serta menjadi bagian dari tujuan itu. Perlu tekad yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam kehidupan keluarga kita.
Pemberian otoritas oleh Kristus pada suami untuk memimpin keluarga merupakan suatu kepercayaan yang perlu dipertanggung-jawabkan kelak dihadapan-Nya. Bukan untuk menjadi diktator , tetapi menjadi teladan yang utama bagi seluruh anggota keluarganya. Menjadi teladan dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kemurnian. (1Tim 4:12).
Menjadi kepala keluarga mempunyai fungsi ganda : sebagai suami terhadap istrinya dan sebagai ayah terhadap anak-anaknya. Kedua fungsi ini memerlukan pemahaman tersendiri, bukan sesuatu yang dapat dilakukan sambil lalu. Di dalamnya terdapat tugas dan tanggung jawab yang telah Allah tetapkan. Kegagalan melakukan fungsi ini sesuai dengan tuntunan Firman Tuhan dapat berakibat hancurnya sebuah keluarga. Kepala keluargalah yang harus mempertanggung-jawabkan maju mundurnya sebuah keluarga yang dipimpinnya di hadapan Kristus kelak.
Jadilah anda suami yang bertanggung jawab, mengasihi Allah dan istri serta menjadi ayah yang baik bagi anak-anak yang Tuhan percayakan kepada anda. Ingatlah bahwa hidup anda sekarang di dalam Kristus adalah sebagai ciptaan baru yang tidak lagi hidup untuk diri anda sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk anda. Tuhan Yesus mengasihi keluarga Anda.
Penutup

Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada kepala keluarga yang siap 100% untuk menjadi kepala keluarga yang sempurna. Berbagai keterbatasan dan kekurangan - baik secara fisik ,mental dan pikiran - yang ada dalam diri seorang suami membuatnya sadar bahwa dia memerlukan seorang penolong dan Allah telah merespon hal ini dengan memberinya seorang istri. Seseorang yang di mata Allah dapat menjadi penolong yang sepadan bagi suami.
Ketidaksempurnaan sebagai seorang suami tidak perlu membuatnya berputus asa, tetapi seharusnya mendorong dia untuk terus belajar memahami dan mempraktekkan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupannya. Perubahan demi perubahan akan dialami bila secara konsisten taat pada Firman Tuhan. Keadaan yang lebih baik sudah ada di depan mata selama suami mengandalkan Tuhan Yesus, bukan kemampuan dan kekuatan di-rinya.
Berbagai kesalahan di masa lalu dalam memimpin keluarga ja-nganlah menjadi beban berat yang memperlambat langkah kaki anda dalam perjalanan menuju ke masa depan. “Tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, Ia akan menepati janji-Nya dan melakukan apa yang adil. Ia akan mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala perbuatan kita yang salah.” (1Yoh 1:9, BIS). Nasihat Paulus penting untuk kita perhatikan agar kita mendapat semangat baru menyongsong masa depan : “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Flp 3:13,14).
Panggilan surgawi anda dalam pernikahan Kristen adalah menjadi seorang suami yang memenuhi kehendak Allah. Karena itu pembaharuan dan pemulihan dalam keluarga anda merupakan suatu kebutuhan yang mendesak, terutama dalam diri anda sebagai seorang kepala keluarga. Berlarilah kepada tujuan untuk memperoleh hadiah sorgawi yaitu sukacita dan berkat-berkat. “Bertumbuhlah bersama dalam kasih karunia”. Amin.
Daftar Pustaka

Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Malang: Gandum Mas, 1994.
Barnest, Albert, Dr. “Barnes’ New Testament Notes.” Sabda .CD-ROM. Versi 3.00. Surakarta : Yayasan Lembaga SABDA, 2003.
Christenson, Larry. Keluarga Kristen. Semarang : Yayasan Persekutuan Betania, 1994.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 2001.
Kursus Tertulis Jalan Kebenaran, Pernikahan Kristen dan Kehidupan Keluarga. Bandung : Lembaga Baptis, 2003.
Meier, Paul D, M.D. Membesarkan Anak Dan Pengembangan Watak Secara Kristen. Surabaya : YAKIN, n.d.


Free Domain Name Address

Tidak ada komentar: