19 Agustus 2008

Artikel-1 : Pernikahan Kristen


Pernikahan Kristen

(Oleh : Ev. Gideon Limandibrata, M.Th.)

(Dosen STT Anglikan Bandung dan STT Mitra Injil Bandung)


Secara harafiah pernikahan Kristen selain melibatkan Tuhan sebagai dasar pernikahan, pernikahan Kristen adalah suatu keputusan dua pribadi menjadi satu, menyatukan dua emosi jadi satu dan saling berfungsi meski kedua pribadi memegang teguh jati diri masing-masing, tidak melihat dan menjadikan perbedaan sebagai suatu yang harus dipermasalahkan (Kej 2:24).
Pernikahan merupakan suatu lembaga yang memang Tuhan adakan dengan tujuan dan juga sebagai gambaran bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh kasih. Adam Tuhan ciptakan dan kepadanya Tuhan berbagi kasih, dan pada siapa Adam bisa berbagi kasih? Secara harafiah saat Adam diciptakan ia sudah tidak sendirian. Ciptaan lain sudah ada, namun Alkitab tidak menyebutkan bahwa pada ciptaan lain Adam menemukan padanan baginya hingga dapat berbagi kasih.


Adam memerlukan Hawa, selain untuk berbagi kasih (sebab manusia tidak bisa berbagi kasih pada ciptaan lain, Kej 2:18,20), Hawa juga berfungsi sebagai orang yang mempunyai tujuan yang sama dengan Adam. Hanya kepada Hawa, Adam dapat berbagi kasih (bila dikatakan yang perlu penolong adalah Adam, pernyataan itu ada benarnya). Pengakuan Adam dalam Kej 2:23a, menjelaskan pengakuan dan kekaguman Adam, sebab apa yang Tuhan berikan merupakan suatu pemberian yang luar biasa. Perlu kita ketahui bahwa penciptaan Hawa oleh Allah terjadi tanpa sepengetahuan Adam. Sebab saat Hawa diciptakan, Adam sedang tidur nyenyak. Tidur nyenyak merupakan tindakan Allah terhadap manusia. Allah mengijinkan manusia tertidur dengan luar biasa saat Ia akan berbuat sesuatu pada kita.


Hawa Allah ciptakan sebagai penolong, berarti secara emosi, rohani dan fisik sama dengan Adam. Dalam bahasa lain, perkataan penolong dipakai kata 'ezer. Kata ini mempunyai pengertian - secara kedudukan - posisi penolong hanya penerima, tapi sebagai penolong ia lebih kuat dari yang ditolong. 'ezer adalah penopang yang menjadikan pemegang utama muncul bagai bintang (sekali lagi Adam perlu Hawa. Tanpa Hawa fungsi Adam kurang lengkap).


Tanpa 'ezer ini Adam pun tidak bisa berbuat apa-apa. Berkaitan dengan diciptakannya Hawa dari tulang rusuk Adam, dalam salah satu tulisannya, Agustinus menuliskan : "Jika Tuhan bermaksud membuat wanita berkuasa atas pria, Dia akan menciptakan Hawa dari kepala Adam. Jika Tuhan bermaksud menjadikannya sebagai budak, akan diciptakan dari telapak kaki Adam. Tapi Tuhan membuat wanita dari sisi pria, karena Ia ingin wanita jadi penolong dan sepadan dengan pria."


Perkawinan adalah lembaga yang Allah ciptakan agar manusia bisa berbagi dan melatih kasih selama 24 jam sehari dan 7 hari selama seminggu. Dalam lembaga perkawinan ini Allah melatih umat-Nya. Menikah menjadikan orang tidak egois. Menikah menjadikan kita benar- benar tidak bisa mementingkan diri sendiri. Kita harus bisa belajar menerima apa yang jadi kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita. Sebab pada saat sudah menikah kita baru tahu kebiasaan pasangan kita, misalnya : masalah odol, tidur, baju sobek. Dan menikah bukan bertujuan mengubah perilaku pasangan kita ke arah yang kita inginkan. Mengubah perilaku adalah tugas Tuhan. Adalah tugas para istri/suami terus menjaga agar pasangan hidupnya terus menerus saling mengasihi.


Syarat utama agar rumah tangga utuh adalah letakkan proporsi pernikahan pada dasar seharusnya seperti yang tercatat dalam Ef 5:22-33, kenakan kecantikan seperti apa yang diharapkan 1Pet 3:3-4, jangan hanya bermodalkan "sejauh cinta yang kita miliki." Mau berkomunikasi dengan terbuka, mendengarkan apa yang pasangan kita mau, tidak menambah lebar saat bertengkar, dan hindarkan situasi yang bisa atau mempunyai kecondongan ke arah perceraian.


Menikah menjadikan kita terus belajar mengasihi sesama dan orang yang belum percaya. Pasangan hidup kita dapat jadi alat agar kita belajar menyalurkan kasih kita. Sehebat apapun pasangan kita, ia tetap mempunyai cela dan kita pun akan merasa kecewa. Jadi dengan menikah kita belajar terus untuk berubah ke arah lebih baik. Ini mengingatkan kita bahwa dihadapan Tuhan apapun yang kita perbuat belum benar menurut Allah. Dihadapan Tuhan kita adalah manusia berdosa yang sudah dibenarkan. Pernikahan Kristen mempunyai visi menjadi teladan bagi sekitar. Dengan begitu, kita bisa menarik orang belum percaya datang pada Tuhan.


Daftar Pustaka

1. Keat Wilis, Keluarga Pada Awalnya. Semarang : STBI, 1985.

2. Lynne, Dipertemukan Untuk Dipersatukan. Jakarta : HPH, n.d.

3. Majalah Euangelion edisi Februari-Maret 2006.

4. Nordis, Pasangan Kristen. Surabaya : Citra Pustaka, n.d.

5. Norman Wright, Komunikasi Kunci Pernikahan Bahagia. Jakarta : Gloria, 2000.

6. Roswitha Ndara, Sudah Siapkah Aku Menikah. Indonesia : SPM, 2006.


Free Domain Name Address

Tidak ada komentar: